DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
SISKA WULANDARI
9977474898

SMA NEGERI 1 TANJUNG BINTANG
LAMPUNG SELATAN
2015
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara
syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
(QS Al-Isra’: 27)
Dan janganlah engkau
jadikan tanganmu terbelenggu ke lehermu (kiasan terhadap sifat kikir) dan
jangan pula engkau terlalu mengulurkannya seluas-luasnya (kiasan terhadap sifat
boros dan konsumtif dalam berbelanja) yang menyebabkan engkau menjadi tercela
lagi menyesal. [QS. Al-Isra’: 29)
Puji dan
syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala berkat
dan rahmat-Nya yang memberikan kesehatan dan nikmat kepada penulis sehingga karya
tulis ini dapat
diselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu yang
direncanakan.
Karya tulis berjudul “Pengaruh Prilaku
Konsumtif Remaja dalam Kehidupan Sehari-hari” disusun untuk memenuhi tugas mata
pelajaran Pkn. Pada kesempatan
ini penulis menyampaikan terima kasih kepada bapak Saffudin S.Pd.M.Pd sebagai guru
pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan dan saran kepada penulis.
Penulis telah
berupaya dengan semaksimal mungkin dalam penyelesaian karya tulis ini, namun
penulis menyadari masih banyak kelemahan baik dari segi isi maupun tata
bahasanya. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari pembaca demi sempurnanya makalah ini. Semoga
isi makalah ini bermanfaat dalam memperkaya khasanah ilmu
pendidikan.
Tanjung Bintang, 3 Maret 2015
Penulis
MOTO
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
I.
Pendahuluan
A.
Latar Belakang
1
B.
Rumusan Masalah
2
C.
Tujuan dan Kegunaan Penulisan
2
II. Kajian
Pustaka
A.
Pengertian Perilaku Konsumtif
3
B.
Remaja
3
1.
Pengertian Remaja
3
2.
Masa Remaja
4
C.
Globalisasi 5
1.
Pengertian Globalisasi
5
2.
Dampak Globalisasi
5
a.
Dampak Positif
5
b.
Dampak Negatif
6
III. Analisis dan Pembahasan
A.
Perilaku Konsumtif Remaja di Era
Globalisasi
8
B.
Faktor Pendorong Perilaku Konsumtif pada
Remaja
9
C.
Pengaruh Perilaku Konsumtif pada Remaja
9
D.
Cara Menghindari Perilaku Konsumtif
9
IV. Kesimpulan dan Saran
A.
Simpulan
10
B.
Saran
10
DAFTAR
PUSTAKA
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Mengonsumsi memang sesuatu hal yang lazim untuk
memenuhi kebutuhan hidup individu. Akan tetapi, mengonsumsi yang dimaksud
mengonsumsi sesuai kadarnya atau sesuai porsinya bukan yang berlebihan. Dalam
hal ini, mengonsumsi suatu barang sesuai yang dibutuhkan dan tetap memperhatikan aturan-aturan yang ada
serta disesuaikan dengan kebutuhan yang penting yang harus didahulukan. Dan
tidak lupa pula disesuaikan dengan kondisi ekonomi.
Namun pada perkembangan zaman seperti saat ini,
manusia terjebak pada kompleksitas ragam komoditi yang secara sadar atau tidak
telah mereka konsumsi. Itu semua tak
terlepas dari konstruksi sosial yang dibangun massa di dalam lingkungan manusia
itu sendiri. Salah satunya yaitu peradaban modern yang tumbuh
dari perkembangan umat manusia telah menunjukkan kemajuan paling tinggi. Namun
perkembangan peradaban yang kian maju, tidak semuanya memiliki dampak positif,
beberapa diantaranya memberikan implikasi yang kurang baik bagi manusia, berupa
perubahan budaya, salah satunya adalah budaya konsumtif terhadap benda
(material culture).
Nah, yang menjadi sasaran potensial para produsen
yaitu para remaja. Mengapa demikian? Karena pola konsumsi seseorang terbentuk
pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan,
suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan
uangnya. Apalagi di kalangan remaja yang memiliki orang tua dengan kelas
ekonomi yang cukup berada, terutama di kota-kota besar, mall sudah
menjadi rumah kedua. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti
mode yang sedang beredar. Padahal mode itu sendiri selalu berubah sehingga para
remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Alhasil, muncullah
perilaku yang konsumtif.
Melihat kondisi remaja saat ini, diharapkan remaja
bisa lebih mengontrol dirinya dalam mengonsumsi suatu barang. Pada saat
seseorang memasuki masa remaja lebih diarahkan lagi dan diberi
pembekalan-pembekalan untuk lebih memperhitungkan kembali apa yang benar-benar
dibutuhkan saat ini agar tidak terjerumus ke perilaku konsumtif.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah saya kemukakan, dapat saya ambil rumusan masalah yaitu
:
1.
Bagaimana pengaruh perilaku konsumtif
remaja di era globalisasi saat ini?
2.
Bagaimana cara menghindari perilaku
konsumtif remaja?
C. Tujuan dan Kegunaan Penulisan
1. Tujuan Penulisan
Tujuan
dari penulisan KTI ini yaitu untuk mengetahui bagaimana pengaruh prilaku
konsumtif remaja terhadap masa depan bangsa.
2. Kegunaan Penulisan
Kegunaan
penulisan ini yaitu untuk memberikan kesadaran kepada para remaja bahwa perilaku
konsumtif itu tidak baik dan harus ditinggalkan. Sebab perilaku konsumtif dapat
menjerumuskan kita pada hidup yang berlebihan atau boros.
Kajian Pustaka
A. Pengertian Prilaku Konsumtif
Menurut Lubis
(dalam Lina & Rasyid, 1997) mendefinisikan bahwa perilaku konsumtif adalah
perilaku membeli atau memakai suatu barang yang tidak lagi didasarkan pada
pertimbangan rasional, melainkan adanya keinginanan yang sudah tidak rasional
lagi. Adapun
pengertian konsumtif menurut Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) adalah
kecenderungan manusia untuk menggunakan konsumsi tanpa batas. Sebenarnya definisi
prilaku konsumtif amat variatif. Tetapi pada intinya perilaku konsumtif adalah
membeli atau mengunakan suatu barang tanpa pertimbangan rasional dan tidak
berdasarkan kebutuhan melainkan berdasarkan keinginan untuk mencapai kepuasan.
Berdasarkan dari beberapa pengertian yang telah
dikemukakan, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa perilaku konsumtif
adalah perilaku individu yang ditunjukan untuk mengkonsumsi suatu barang secara
berlebihan dan tidak terencana. Perilaku ini lebih banyak dipengaruhi oleh
nafsu yang semata-mata untuk memuaskan kesenangan serta lebih mementingkan
keinginan dari pada kebutuhan. Sehingga tanpa pertimbangan yang matang,
seseorang begitu mudah melakukan pengeluaran untuk memenuhi keinginan yang
tidak sesuai dengan kebutuhan pokoknya sendiri.
B. Remaja
1. Pengertian Remaja
Remaja
berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi
dewasa. Istilah adolensence mempunyai
arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan
fisik (Hurlock, 1992). Pada masa ini sebenarnya tidak mempunyai tempat
yang jelas karena tidak termasuk golongan anak-anak tetapi tidak juga golongan
dewasa atau tua. Jika dipandang dari Bahasa Inggris berasal dari kata teenager yang artinya manusia berusia
belasan tahun. Dimana usia tersebut merupakan perkembangan untuk menjadi
dewasa.
Sedangkan
pengertian remaja menurut Zakiah Darajat (1990:
23) adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Mereka
bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak,
tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.
Menurut
psikologi,
remaja adalah suatu periode transisi dari masa awal anak-anak hingga masa awal
dewasa, yang dimasuki pada usia kira-kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada
usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang
cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk
tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada,
perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini,
pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis,
abstrak, dan idealistis) dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar
keluarga. Dari beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa remaja
adalah seseorang yang mengalami perubahan baik fisik maupun psikis untuk
menemukan identitas atau jati dirinya yang sesungguhnya.
2. Masa Remaja
Menurut
Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa
anak-anak ke masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek / fungsi untuk
memasuki masa dewasa.
Menurut
Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu
masa pra-remaja 10 – 12 tahun, masa remaja awal 12 – 15 tahun, masa remaja
pertengahan 15 – 18 tahun, dan masa remaja akhir 18 – 21 tahun.
Dari
beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa masa remaja adalah masa
peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang berumur 12 tahun sampai dengan 21
tahun bagi wanita
dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria.
C. Globalisasi
1. Pengertian Globalisasi
Menurut
Thomas Larsson dalam bukunya The Race to
The Top : The real story of globalization, globalisasi adalah proses penyusutan
dunia, jarak yang semakin pendek, hal-hal bergerak lebih dekat. Menurut Anthony
Giddens, globalisasi adalah intensifikasi hubungan sosial secara mendunia
sehingga menghubungkan antara kejadian yang terjadi di lokasi yang satu dengan
yang lain serta menyebabkan terjadinya perubahan pada keduanya. Globalisasi adalah proses integrasi
internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan
dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan
lainnya yang tidak dibatasi wilayah geografis.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa globalisasi adalah proses perubahan tatanan kehidupan
masyarakat dunia yang terjadi karena pertukaran informasi dari satu wilayah ke
wilayah lain tanpa mengenal batasan geografis.
2. Dampak Globalisasi
a. Dampak Positif
Mudah
memperoleh informasi dan penambahan ilmu dari berbagai belahan dunia. Jalinan
komunikasi akan semakin mudah dan semakin canggih. Mobilitas yang tinggi akan
memudahkan siapapun dalam melakukan perjalanan, baik perjalanan jauh maupun
perjalanan dekat. Perkembangan ekonomi, sosial dan budaya dengan globalisasi
ini akan membawa individu semakin semangat dalam meningkatkan potensi dirinya. Pemenuhan
kebutuhan yang semakin kompleks dan tidak terbatas sedikit demi sedikit akan
mulai terpenuhi secara berkala pada era globalisasi.
b. Dampak Negatif
Menimbulkan
prilaku konsumtif. Segala informasi tidak tersaring untuk informasi baik maupun
informasi buruk. Pemborosan dan perilaku yang menyimpang dari adat ketimuran. Lebih
condong pada budaya barat sehingga budaya pribadi sering ditinggalkan. Sikap
individualis dan menutup diri sering terjadi pada individu yang mengikuti arus
globalisasi secara terus-menerus.
Analisis dan Pembahasan
A. Perilaku Konsumtif Remaja di Era
Globalisasi
Di
tengah realitas kondisi ekonomi bangsa kita yang masih jauh di bawah Negara
lain. Masyarakat kita malah semakin dikendalikan oleh budaya konsumtivisme.
Besarnya peningkatan permintaan terhadap barang-barang teknologi seperti yang
diberikatan di beberapa media sejak tahun-tahun lalu hingga sekarang, telah
menunjukkan perilaku konsumtif bangsa Indonesia yang semakin memprihatinkan.
Tiada hari tanpa belanja dan membeli. Bahkan sebagian dari mereka sudah ada
yang mengidap penyakit “shopilimia”, suatu penyakit “kecanduan
berbelanja”. Masyarakat kita pun akhirnya semakin sulit membedakan antara
kebutuhan dan keinginan. Mungkin kita pernah memperhatikan beberapa counter handphone yang selalu ramai saat hari-hari biasa dan membludak di
hari libur. Survey membuktikan bahwa banyak diantara kita yang mempunyai
telepon seluler lebih dari satu. Keberadaan dua sampai tiga telepon seluler
disaku bagi sebagian besar masyarakat kita saat ini tidak lagi menjadi sesuatu
hal yang aneh, namun sudah lumrah. Apple, BlackBerry dan Htc merupakan
segelintir brand yang menghiasi saku-saku banyak orang saat ini, tentunya
dengan dibantu hp-hp lokal lainnya. Fakta ini, diperkuat oleh prilaku para
remaja, khususnya pada momen-momen khusus yang terjadi di sepanjang tahun,
semisal hari raya keagamaan, seperti bulan Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri,
Natal, dan Tahun Baru.
Remaja
yang bergaya hidup konsumtif rela mengeluarkan uangnya hanya untuk jaga gengsi
dalam pergaulan. Baik itu masalah makanan dan minuman, pakaian, juga
masalah hiburan (Food, Fashion, and Fun). Hal ini merupakan perwujudan
dari gharizah al baqa (naluri mempertahankan diri). Setiap orang ingin
dianggap eksis dalam lingkungan pergaulannya. Bahkan mereka rela
menghambur-hamburkan uang kedua orang tuanya demi mencapai eksistensi tersebut.
Mereka sudah tidak memperdulikan betapa susahnya orang tua dalam mencari uang,
yang mereka pikirkan hanyalah mencapai kepuasan dan keinginan.
Budaya
konsumtif yang mewabah pada remaja saat ini tidak terlepas dari perkembangan
budaya kapitalisme yang menempatkan konsumsi sebagai titik sentral kehidupan
dalam tatanan sosial masyarakat. Terlebih lagi pada momen-momen
khusus yang terjadi disepanjang tahun yang mendorong setiap individu untuk
bertindak konsumtif. Hal ini awalnya hanya untuk memenuhi kebutuhan yang
dianggap perlu, namun lama-kelamaan sifat konsumtif semakin besar sehingga
individu cenderung membeli barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.
Keinginan yang besarlah yang membuat mereka susah untuk menahan membelanjakan
uang yang mereka miliki.
Perilaku
konsumtif ini dapat terus mengakar di dalam gaya hidup sekelompok remaja. Dalam
perkembangannya, mereka akan menjadi orang-orang dewasa dengan gaya hidup
konsumtif. Gaya hidup konsumtif ini harus didukung oleh kekuatan finansial yang
memadai. Masalah lebih besar terjadi apabila pencapaian tingkat finansial
itu dilakukan dengan segala macam cara yang tidak halal. Sebagai contohnya
mencuri, merampok, dan sebagainya.
B.
Faktor
Pendorong Perilaku Konsumtif pada Remaja
Salah
satu faktor pendorong prilaku konsumtif pada remaja yaitu mereka ingin dianggap
keberadaannya dan diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi
lingkungan tersebut. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang
lain yang sebaya itu menyebabkan remaja untuk mengikuti berbagai atribut yang
sedang popular. Salah satu caranya adalah dengan berperilaku konsumtif,
seperti: memakai barang-barang yang baru dan bermerk , memakai kendaraan ke sekolah,
pergi ke tempat-tempat mewah untuk bersenang-senang (diskotik, restoran, kafe
dan tempat-tempat lainnya) di berbagai penjuru kota.
Dengan
adanya semua fasilitas-fasilitas dan tempat perbelanjaan yang ada tersebut,
memudahkan akses bagi masyarakat terutama remaja untuk berperilaku konsumtif.
Karena untuk dianggap keberadaanya oleh lingkungan, ia harus menjadi lingkungan
tersebut dengan cara mengkonsumsi dan menikmati semua fasilitas yang telah
disediakan. Kesimpulannya, ini semua dilakukan oleh remaja semata-mata ingin
diperhatikan dan ingin menunjukkan bahwa remaja sudah bisa menjadi dewasa,
sudah bisa hidup dan bergaul layaknya orang dewasa. Tetapi akibatnya perilaku
konsumtif ini akan terus menjadi kebiasaan gaya hidup remaja.
Faktor
lain yang mengakibatkan para remaja berprilaku konsumtif yaitu adanya
majalah-majalah etalase dan iklan-iklan yang memamerkan berbagai produk bermerk
yang membuat mereka tergiur dan tertarik untuk membeli serta memilikinya. Jadi,
bisa dikatakan saat ini masyarakat terutama remaja telah dijajah oleh pasar.
C.
Pengaruh
Perilaku Konsumtif pada Remaja
Pengaruh
atau akibat yang ditimbulkan dari prilaku konsumtif remaja yaitu :
1.
Boros
Mereka
rela menghambur-hamburkan uang demi mencapai keinginannya, bukan memenuhi
kebutuhannya.
2.
Menimbulkan masalah ekonomi keluarga
Bagi
remaja yang kedua orang tuanya tidak mampu, akan menimbulkan masalah. Sebab,
remaja tersebut pasti akan terus mendesak kedua orang tuanya agar memenuhi apa
yang diinginkan.
3.
Menimbulkan kesenjangan sosial
Dalam
hal ini akan terjadi perbedaan antara anak orang menengah ke atas dan menengah
ke bawah. Akibatnya terjadi kecemburuan sosial yang mengakibatkan hal-hal yang
tidak diinginkan, bahkan bisa menimbulkan kriminalitas.
D. Cara Menghindari Perilaku Konsumtif
1.
Mampu memprioritaskan konsumsi pada
hakikat awalnya, yaitu mengonsumsi sesuai kebutuhan bukan sesuai keinginan.
2.
Mengimbangi pengaruh konsumerisme dengan
kegiatan positif yang lain seperti mengikuti kegiatan olahraga, kesenian,
kelompok-kelompok diskusi, atau berorganisasi.
3.
Pemerintah harus lebih memperhatikan
remaja-remaja berprestasi, maka rasa nasionalisme dan patriotisme akan lebih
tumbuh.
Simpulan dan Saran
A. Simpulan
Dari hasil pembahasan di atas, dapat saya simpulkan
bahwa globalisasi memiliki pengaruh yang luar biasa bagi para remaja. Pengaruh
tersebut yaitu melekatnya perilaku konsumtif remaja di kehidupan
sehari-harinya. Hal tersebut bisa terjadi karena remaja memang sudah menjadi
sasaran potensial bagi para produsen. Selain itu, masa remaja adalah proses
pencarian jati diri, sehingga mereka lebih mudah terpengaruh dan terbawa oleh
kondisi lingkungan di sekitarnya. Ditambah lagi dengan diluncurkannya
barang-barang bermerk, semakin mudahlah perilaku konsumtif muncul di kalangan
remaja.
Dengan melihat kondisi remaja saat ini, jika
seseorang memasuki masa remaja sebaiknya lebih diarahkan dan lebih dipantau
lagi terutama oleh orang tua. Selain itu, para remaja lebih baik diberi
kesibukan agar mereka tidak merasa bosan. Karena perilaku konsumtif muncul
akibat mereka tidak ada kegiatan, lalu mereka bosan. Dari kebosanan itulah
muncul budaya belanja yang mengakibatkan perilaku konsumtif.
B. Saran
Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi yang
membacanya dan semoga bisa dikaji ulang supaya karya tulis ini dapat lebih baik
lagi. Dan yang paling saya tekankan, semoga dengan adanya karya tulis ini para
remaja bisa memiliki kesadaran untuk menghindari yang namanya perilaku
konsumtif. Sebab perilaku konsumtif bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi
dapat merugikan orang tua serta bisa menghabiskan uang tanpa alasan dan tujuan
yang jelas.
Luki Viky Desha, Definisi Konsumen, Konsumsi, Konsumtif, dan
Konsumerisme, http://lukivikydesha.blogspot.com/2010/10/definisi-konsumen-konsumsi-konsumtif.htm,
dikutip tanggal 2 Februari 2015
Ahhafidh, Konsumerisme pada Remaja (Perilaku
Konsumtif yang Berlebihan), http://ahhafidh.blogspot.com/2014/09/konsumerisme-pada-remaja-perilaku.html,
di kutip tanggal 2 Februari 2015
Afdhol Hanaf, Prilaku Konsumtif pada Remaja, http://afdholhanaf.blogspot.com/2012/01/v-behaviorurldefaultvmlo.html,
dikutip tanggal 2 Februari 2015
Antarajatim, Prilaku Konsumtif Mengancam Masa Depan Bangsa,
http://www.antarajatim.com/lihat/berita/84039/perilaku-konsumerisme-mengancam-masa-depan-bangsa,
dikutip tanggal 2 Februari 2015
Siska Purkasih,
Masalah Konsumerisme di Kalangan Remaja, http://siskapurkasih.blogspot.com/2008/10/masalah-konsumerisme-di-kalangan-remaja.html,
dikutip tanggal 27 februari 2015
Yemima Lintang Khastiti, Konsumerisme Kikis Kesadaran
Bangsa, Benarkah?, http://www.fimela.com/news-entertainment/konsumerisme-kikis-kesadaran-berbangsa-benarkah-120626c-page1.html,
dikutip tanggal 27 februari 2015
Fajar Riski, Konsumerisme di Kalangan Remaja, http://fajar_riski_s-fib11.web.unair.ac.id/artikel_detail-60919-Umum-KONSUMERISME%20DI%20KALANGAN%20REMAJA.html, dikutip tanggal 27 februari 2015
Avicenna Eduction, Prilaku Konsumerisme Mengancam Masa Depan Bangsa, https://guruprivatsmp.wordpress.com/2013/10/07/perilaku-konsumerisme-mengancam-masa-depan-bangsa/, dikutip tanggal 27 februari 2015
Chriscahyanti Sofi
Yustisia, Konsumerisme : Proyeksi
Masa Depan Masyarakat Informasi, http://chrissophie-fisip09.web.unair.ac.id/artikel_detail-70968-Globalization%20and%20Information%20Society-Konsumerisme:%20Proyeksi%20Masa%20Depan%20Masyarakat%20Informasi%20%20.html,
dikutip tanggal 27 februari 2015
Elvanenda, Remaja dan Perilaku Konsumtif, https://elvanenda.wordpress.com/category/tak-berkategori/psikologi-remaja/,
dikutip tanggal 27 februari 2015
Haryanto S.Pd, Pengertian Remaja Menurut Para Ahli, http://belajarpsikologi.com/pengertian-remaja/,
dikutip tanggal 27 februari 2015
Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Remaja,
dikutip tanggal 27 februari 2015
Pengertian
Globalisasi, Pengaruh serta Dampak, http://www.apapengertianahli.com/2014/09/pengertian-globalisasi-serta-pengaruh-dampak-globalisasi.html#,
dikutip tanggal 27 februari 2015
Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi,
dikutip tanggal 27 februari 2015
Smart Click, Pengertian, Dampak, dan Contoh-contoh
Globalisasi, http://www.g-excess.com/pengertian-dampak-dan-contoh-contoh-globalisasi.html,
dikutip tanggal 27 februari 2015
Dampak Negatif dan Positif Konsumtif, http://www.gerbangilmu.com/2014/06/dampak-positif-dan-negatif-perilaku.html, dikutip tanggal 27 februari 2015
Pakde Sofa, Remaja dan Perilaku Konsumtif, https://massofa.wordpress.com/2008/05/18/remaja-dan-perilaku-konsumtif/,
dikutip tanggal 27 februari 2015Arif Zahari,
Konsumtif vs Konsumerisme, http://arifzahari.blogspot.com/2009/12/konsumerisme-vs-konsumtif.html, dikutip tanggal 27 februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar